Jumat, 23 Juli 2010

Such Is Life

REFLECT ON THESE AND AIM FOR A GOOD LIFE.

We never get what we want,We never want what we get, We never have what we like, We never like what we have.And still we live & love. That's life...


The best kind of people, Is the kind you can sit on a porch and swing with,
Never say a word,
And then walk away feeling like it was the best conversation you've ever had.

It's true that we don't know
What we've got until it's gone,
But it's also true that we don't know What we've been missing until it arrives.


Giving someone all your love is never an assurance that they'll love you back!

Don't expect love in return; Just wait for it to grow in their heart,

But if it doesn't, be content it grew in yours.



It takes only a minute to get a crush on someone,
An hour to like someone,
And a day to love someone,
But it takes a lifetime to forget someone.


Don't go for looks; they can deceive.

Don't go for wealth; even that fades away.

Go for someone who makes you smile,

Because it takes only a smile to
Make a dark day seems bright.

Find the one that makes your heart smile!



May you have Enough happiness to make you sweet,

Enough trials to make you strong,

Enough sorrow to keep you human,

And enough hope to make you happy.



Always put yourself in others' shoes.

If you feel that it hurts you,

It probably hurts the other person, too



The happiest of people

Don't necessarily have the best of everything;

They just make the most of everything that comes along their way.

Happiness lies for
Those who cry,

Those who hurt,
Those who have searched,

And those who have tried,

For only they can appreciate the importance of people

Who have touched their lives.




When you were born, you were crying

And everyone around you was smiling.

Live your life so that when you die,

You're the one who is smiling
And everyone around you is crying.


Sumber: Email from: Sjeane Tera (sjeanetera@yahoo.com).Thx Sjeane


















7 UP for success


7 kata "UP" untuk sukses :


1. WAKE UP ( bangun ), Tdk peduli berapa kali kita gagal,tapi jika kita lebih banyak bangun & memulai lagi,kita akan sukses.


2. DRESS UP ( berhias ). Kecantikan dr dalam jauh lebih penting drpd sekedar hiasan luar yg sementara,miliki mentalitas berkelimpahan,hasil dr suatu harga diri & rasa aman yg dalam..ini akan menghasilkan kesediaan utk berbagi penghormatan, keuntungan, dan tanggung jawab.


3. SHUT UP ( berhenti bicara ). Berhentilah bicara ttg kesuksesan masa lalu,sudah saatnya fokus kan diri utk kesuksesan masa depan.


4. STAND UP ( berdiri ). Berdirilah teguh pada keyakinan awal bahwa kita pasti berhasil.

5. LOOK UP ( pandanglah ). Saat peresmian Disney Land,seorg wartawan bertanya pada istri almarhum Walt Disney "Bagaimana perasaan bapak saat melihat impiannya telah jadi kenyataan dgn dibukanya Disney Land ini?" Istri Walt Disney menjawab "Ia telah melihat ini semua terjadi jauh sebelum proyek ini terbentuk"..Lihatlah semua impian kita dalam imajinasi kita seakan2 semuanya telah terjadi.


6. REACH UP ( capailah ). Capailah sesuatu yg lebih tinggi dari prestasi sebelumnya karena itu menandakan bahwa kita memang bertumbuh.


7. LIFT UP ( naikkan ). Naikkan semua impian kita dlm bentuk doa ucapan syukur seakan2 semua telah terjadi...


Semoga hari ini kita bisa sama2 belajar menanamkan semangat 7UP yang akan membantu kita & sesama mencapai sukses.
Sumber: Email from Sjeanetera (sjeanetera@yahoo.com).Thanks Sjeanne

Senin, 27 Juli 2009

Ketidakberdayaan

Sudah sering kita ketahui seseorang melakukan tindakan yang luar biasa yang mana dalam keadaan normal tidak mungkin dilakukannya. Misalnya meloncati pagar setinggi 2 m tanpa melatih diri sebelumnya pada saat kondisi terjepit untuk menyelamatkan diri. Seorang ibu menyelamatan anaknya yang dari kebakaran dengan menerobos kobaran api dan ternyata berhasil menyelamatan anaknya yang mana dalam keadaan normal tidak mungkin bisa dilakukannya.

Ketidakberdayaan merupakan kondisi dimana setiap orang merasakan sebagai kondisi yang tidak menyenangkan dan hampir dipastikan hampir setiap orang pernah merasakan dalam bagian siklus hidupnya.

Sebenarnya dalam ketidak berdayaan ini tersimpan suatu potensi yang luar biasa dimana mungkin kita tidak pernah tahu bahwa adanya potensi luar biasa dalam kita yang sebenarnya.

Dalam ketidakberdayaan akan timbul kepasrahan sekaligus keberanian untuk mencoba hal hal baru yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan atau tidak berani untuk mencobanya ataupun sesuatu yang tidak pernah kita pikirkan.
Dalam keadaan normal atau dalam kondisi keberhasilan mungkin kita tidak akan melakukan sesuatu yang baru untuk mencobanya dikarenakan keberhasilan yang ada akan menghambat kita untuk melakukannya dengan assumsi jika gagal akan mengurangi keberhasilan yang ada.
Tentunya dalam ketidakberdayaan kita akan lebih tidak takut untuk melakukannya karena jika gagal tidak akan membawa dampak yang berarti dengan kondisi saat ini.
Dalam ketidak berdayaan tentunya kita lebih bisa menerima dan melihat peluang yang ada walaupun peluang itu tidak besar dan tidak akan di manfaatkan bila kita dalam kondisi normal, hal ini tentunya bila dalam ketidak berdayaan kita bisa menerima kondisi yang ada sehingga timbul kepasrahan dan keberanian yang benar dan dengan iman yang benar sehingga yang ditakuti gagal malah berhasil. Umumnya orang takut gagal yang diciptakan atau yang ada dalam alam pikirannya hanya terfokus pada keberhasilannya saja, yang mana dalam menempuh perjalanan akan diketemukan kerikil kerikil sandungan. Orang yang pernah dalam kondisi ketidak berdayaan biasanya lebih ulet dikarenakan adanya kepasrahaan dan keberanian untuk melakukannya.
Ketidak berdayaan ditambah dengan adanya tanggung jawab yang harus dipikulnya merupakan suatu potensi untuk melakukan perubahaan yang besar.
Tentunya perubahaan besar akan terjadi pada suatu titik balik bisa mengarah ke suksesan ataupun melakukan tindakan besar yang destruktif.
Apapun pilihannya ketidakberdayaan merupakan potensi besar untuk melakukakan tindakan diluar kemampuan orang dalam keadaan normal.
Jika ketidakberdayaan ini menimbulkan kepasrahan dan keberanian dan menerima kondidi yang ada dan dapat memulai mencoba dan adanya lingkungan yang mendukung kearah kebaikkan tentunya merupakan energi positif yang sangat potensial yang mungkin tidak pernah dirasakannya dalam keadaan normal.
Yang jadi masalah apabila ketidak berdayaan ini dipaksakan untuk menjadi orang yang mempunyai arti dalam waktu yang relatif cepat dan kondisi yang ada semakin memojokkannya sehingga tidak bisa menerima kondisi yang ada, sehingga ketidakberdayaannya semakin menimbulkan amarah bukannya kepasrahan yang sebenarnya ditambah dengan cuci otak untuk melakukan sesuatu yang berarti dari pada saat ini pun ketidakberdayaannya tidak mempunyai arti, timbulnya yah bom bunuh diri alias teroris.
Yang pasti Tuhan memberikan ketidakberdayaan untuk potensi kebaikkan tinggal manusianya memilih dan tentunya berperan serta agar jangan menimbulkan keyidak berdayaan yang menimbulkan energi negatif.
Peran proaktif dari manusia baik besar maupun kecil paling mudah tentunya pada lingkungan sekitarnya untuk memperdayakan orang orang yang dalam kondisi ketidakberdayaan kearah yang lebih baik sehingga mudah mudahan bisa meniadakan hal hal yang tidak baik terutama bentuk bentuk teroris yang lain.
Semua pilihan ada pada kita dan memulai dari hal hal kecil terlebih dahulu pada komunitas dimana kita berada, sebaiknya memulai sedini mungkin sehingga bila kita bersinergi untuk memulainya semakin banyak hal hal yang dapat dicegah dan tentunya semakin banyak pula keberhasilan keberhasilan yang dapat terjadi.
Jangan pernah menyerah pada ketidak berdayaan, karena ketidak berdayaan merupakan potensi kearah kemajuan paling tidak akan merubah kita lebih arif dan melihat persoalaan lebih jelas dan apabila kita memasrahkan diri kita akan semakin mendekatkan kita kepada sang pencipta.

Dengan ketidakberdayaan dan merasa tidak mempunyai arti apa apa umumnya semakin kuat keimanan kita dan keterikatan kita kepada Sang Khalik serta meminta bimbingannya agar setiap langkah kita di ridhoiNya. Amin

Minggu, 12 Juli 2009

Memahami

Untuk dapat selaras dengan suatu "komunitas" tentunya kita harus memahami dulu "aturan main" yang komunitas akan kita masuki baik yang tertulis maupun tidak tertulis, baik yang nyata mudah dipahami maupun yang tidak mudah dipahami bila kurang memperhatikannya.

Sesudah mulai memahami secukupnya tentunya menyesuaikan dengan pemahaman kita, tentunya sudah cukup memahami diri kita sendiri sebelumnya. Barulah kita mencoba terlibat langsung atau masuk dalam komunitas tersebut.

Dengan memahami aturan main yang ada kita akan lebih mudah mencapai apa yang akan raih dalam kita memasuki komunitas tersebut.Dan yang pasti bila kita mengikuti aturan main yang ada akan mengurangi atau malah sama sekali tidak akan ada salah paham yang akan terjadi. Hal ini sebenarnya sederhana seperti layaknya kita mengikuti suatu permainan sudah tentu ada aturan main yang berlaku dan harus dipelajari untuk dipahami dan diterapkan.Demikian juga hukum alam yang berlaku dan juga semua disiplin ilmu mempunyai kaidah kaidah yang harus dipahami dan diterapkan sesuai dengan realitas hukum yang berlaku.

Untuk memahami tentunya perlu selangkah demi selangkah kita pahami dan belajar sambil mempraktekkannya dan memperhatikannya serta perlu masalah masalah agar lebih memahami atau kita membuat model masalah dengan bekal pemahaman yang kita kuasai atau pemahaman lain yang analog kita kuasai sebelumnya.

Dengan disiplin menerapkan hukum hukum yang ada dan mengukur kekuatan dan resiko yang kita hadapi dengan keberhasilan yang hendak kita capai, kita melakukan keputusan dan tindakan.

Umumnya dengan melakukan resiko yang dapat dikalkulasi dan mengukur kekuatan kita jarang kita sampai jatuh terlalu dalam dan sukar untuk bangkit kembali.

Hanya sayangnya kita umumnya melakukan kesalahan dengan membayangkan keuntungan dan keberhasilan yang akan kita raih mengabaikan disiplin diri dan disiplin pemahaman hukum hukum yang ada yang sudah kita pahami.

Falsafah resiko yang tinggi,keuntungan yang tinggi ( high risk high return) memang benar adanya hanya seberapa tingkat resiko tergantung dari pada individu masing-masing. Hanya tentunya resiko yang diambil jangan sampai membuat kita terperosok terlalu dalam bila gagal.Paling tidak resiko gagal walaupun kecil tetap masih bisa terjadi baik karena salah kalkulasi ataupun kurang informasi, ataupun lingkungan berubah tidak mendukung, tentunya faktor keberuntungan perlu dipertimbangkan.

Memahami dan menyesuaikan dengan kekuatan diri yang ada serta disiplin dalam tindakan tidak tergesa gesa dalam mencapai target dengan menghitung resiko yang dapat dikalkulasi dan menunggu waktu yang tepat untuk bertindak untuk mengambil resiko yang lebih besar.

Semua ini memerlukan kesabaran, bertindak seperti tawon mengumpulkan madu dalam keseharian dan bertindak seperti harimau pada saat yang tepat.

Tentunya saja semua tergantung pada pribadi masing-masing dan tingkat kepuasan yang ada dan target waktu yang hendak dicapai.

Yang ditekankan disini memahami lingkungan yang ada dan memahami diri sendiri dan bagaimana dapat memberikan nilai tambah bagi kita dan lingkungan dan tidak membebani lingkungan yang ada tanpa memberi nilai tambah sebagai gantinya.
Umumnya orang minta dipahami terlebih dahulu, dengan mengikuti aturan main yang ada dan dapat memberi nilai tambah tentunya dengan sendirinya dapat dipahami tanpa harus meminta dipahami.
Apabila aturan main yang ada dirasa kurang sejalan atau tidak kondusif untuk lebih maju, disini kita berperan sebagai agen perubahan(change of agent) minta dipahami dan merubah aturan main yang ada agar lebih baik bagi semua yang yang ada, tentunya memerlukan sumberdaya yang cukup mendukung untuk dapat melakukannya terutama bila perubahan yang diharapkan cukup drastis.
Banyak teori menejemen dari luar ditawarkan kepada kita dan diikuti mentah mentah tanpa memahami karakter budaya kita atau lebih spesifik lingkup lebih kecil budaya komunitas yang ada. Atau penerapan sepotong sepotong tanpa coba memahami keseluruhan sehingga hasilnya tidak optimal.Diperlukan pemahaman yang lebih luas dan target yang jelas dan tentunya tindakan yang sesuai dan disiplin yang sesuai.
Selamat mencoba apapun pilihan anda,Good Luck:-)

Jumat, 19 Juni 2009

Selaras



Selaras,dapat diartikan kesesuaian yang dapat memberikan suatu keindahan, harmoni, dan dapat memberikan inspirasi atau keteladanan.
Keselarasan ini dapat merupakan sesuatu berdasarkan ukuran standar yang sudah ada/berlaku di masyarakat ataupun sesuatu yang baru tetapi memberikan nilai-nilai baru yang dirasakan masyarakat secara umum sebagai keselarasan, bisa juga tentunya hanya dapat dinikmati oleh sebagian masyarakat yang memang menguasai bidangnya.

Seperti selaras antara kata dan perbuatan, ini merupakan standar umum dan hampir semua masyarakat dapat menilai dan menyetujuinya. Selaras antara kata dan perbuatan merupakan hal yang tidak mudah karena sifat kodrati manusia sendiri yang sering lalai dan tidak sempurna.

Dalam hal selaras kata dan perbuatan, paling tidak berusaha dilakukan dan dapat dinilai oleh komunitas dimana kita berada, kita masih dinilai pantas untuk dikatakan konsisten dan bertanggung jawab atas apa yang kita ucapkan dan tentunya akan lebih baik lagi bertanggung jawab atas tindakan yang kita lakukan.

Untuk bersosialisasi dalam masyarakat atau komunitas kita berada, hendaknya tingkah laku kita memberikan keselarasan, yang tentunya menciptakan keharmonian dan akan lebih baik lagi memberikan motivasi dengan keteladanan, syukur - syukur memberikan inspirasi yang baik pada komunitasnya sehingga memberi bekas mendalam yang selalu memberikan motivasi.

Kalau ini bisa dilakukan dapat dikatakan anda telah mampu memimpin diri sendiri sehingga layak untuk memimpin komunitas dalam komunitas anda berada apabila diperlukan. Tentunya masih banyak faktor pendukung yang diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin tetapi paling tidak ada keselarasan dan akan lebih baik dapat m inspirasi dan keteladanan bagi yang dipimpin.

Faktor yang disebut diataslah salah satunya yang membedakan antara politikus dan negarawan.Dimana kampanye untuk meraih kekuasaan sebenarnya tidak terlalu effektif apa bila kita dapat mengikuti sepak terjang sebelumnya dari pada para calon. Yang perlu diingat "politikus" ataupun "negarawan" selalu ada dalam kehidupan nyata sehari hari dalam setiap strata sosial bahkan dalam kehidupan bahkan dalam kehidupan berumah tangga.

Keselarasan masa lampau yang baik merupakan nilai jual, daripada selalu menjanjikan masa depan yang lebih baik, apalagi bila janjinya tidak pernah ditepati dan yang paling parah malah mengatakan tidak mengatakan janjinya dan mengatakan tidak tahu apabila akibat perbuatannya menimbulkan masalah.Tentunya bila menghasilkan yang baik akan diklaim haknya, jika "selaras" dalam melakukan karakter ini tentunya hasil akhirnya akan dapat dibayangkan. Chaos :-)))).

Sabtu, 13 Juni 2009

Kredibilitas


Untuk dunia perbankan atau lembaga pembiayaan sudah tidak asing lagi dengan istilah 5 C; Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition untuk menilai calon debitur. Pada prinsip dasarnya kreditur mengharapkan apa yang dipinjamkan kepada debitur dapat dikembalikan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Dengan lain calon debitur mempunyai kredibilitas yang memenuhi syarat sehingga layak disetujui proposal pinjaman yang diajukan.

Kata kredibilitas sendiri berasal dari kata latin " Credo" yang berarti saya percaya pada anda.


Istilah 5 C ini dapat diterapkan juga dalam kehidupan sehari hari dari yang sangat sederhana sampai dengan tingkat kompleksitas yang tinggi.


Untuk yang paling sederhana bila seseorang meminta orang lain untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan dan berharap pekerjaan tersebut dilaksanakan sesuai yang diharapkan sehingga tujuan meminta bantuan tersebut mencapai sasaran. Sudah pasti orang tersebut dibawah sadarnya akan memilih orang yang mempunyai kredibilitas untuk melakukannya.

Demikian juga bila kita hendak mendelegasikan wewenang, bekerja sama/bermitra kita melakukan analisa 5C dan faktor lainnya sudah tentu untuk menilai kredibilitas, walaupun mungkin tidak secara sistimatis dikarenakan sebenarnya analog dengan kita "meminjamkan" sesuatu atau sumber daya, kepercayaan, mempertaruhkan jabatan, nama baik sehingga kita tidak mau bermitra dengan orang yang tidak punya kredibilitas mengembalikan "pinjaman" yang kita telah berikan.


5 C yang pertama Character (Karakter),orang yang mempunyai karakter yang buruk/ tidak mempunyai integritas adalah yang paling utama untuk dihindari. Karena karakter yang buruk ini menutupi 4 C yang mungkin baik penilaiannya, seperti misalnya karakter tidak bertanggung jawab dan sulit diminta pertanggung jawabannya.


Capacity (Kapasitas), kemampuan untuk menjalankan kepercayaan atau tugas yang harus diemban sehingga kita yakin "meminjamkan" sumberdaya yang ada pada kita. Misalnya bisa dilihat dari catatan sepak terjangnya (track record) dalam menjalankan tanggung jawab sejenis.


Capital(Modal), Modal disini selain modal uang atau asset bisa diartikan lebih luas seperti pengalaman atau jejaring, tim serta pengetahuan yang diperlukan untuk mendukung keberhasilan.


Collateral (Kolateral/jaminan), biasanya sesuatu yang bisa disita sebagai sita jaminan apabila diperlukan biasanya dilakukan paling akhir. Dalam kasus memberikan delegasi/memberikan kepercayaan atau wewenang terutama untuk tingkat kepentingan dan resiko yang tinggi umumnya ada yang memberikan jaminan, rekomendasi atas kredibilitas si calon terutama bila sicalon belum mempunyai reputasi untuk tugas sejenis (new comer) atau jaminannya yah reputasi baik dari si calon sendiri sehingga dia akan berusaha menjaga reputasi baik yang telah diraihnya.


Condition (kondisi), kondisi lingkungan tentu harus diperhitungkan karena bila kondisinya tidak kondusif dan tingkat kegagalannya sangat tinggi sebaiknya tidak "meminjamkan" sehingga mungkin ditunda atau tidak didelegasikan tapi ditangani sendiri apabila tingkat keberhasilannya lebih tinggi.
5 C ini bisa dirangkum dalam satu kata Credibility(kredibilitas), atau mungkin lebih tepat perlu ditambahkan sebagai 6 C.
Selain 6 C mungkin perlu ditambahkan satu faktor C yang terakhir tetapi tidak kalah penting dengan C lainnya terutama dalam bermitra atau memberikan kepercayaan pada seseorang yaitu "Chemistry", terutama dalam mencari belahan jiwa:-) tetapi tidak perlu ditambahkan satu C lagi sehingga C yang kedelapan menjadi, CAPE DEH :-))))))

Rabu, 10 Juni 2009

Belajar dari masalah



Hampir semua dari kita selalu berusaha menghindar dari masalah, hanya sayangnya yang namanya masalah selalu ada.


Semakin tinggi tujuan yang hendak dicapai tentunya semakin banyak dan semakin komplek permasalahan yang harus di hadapi.


Masalah ada yang dapat di prediksi dan pemecahan masalahnya dapat diprediksi, ada masalah yang tidak dapat diprediksi dan pemecahannya pun mungkin tidak pernah terpikirkan untuk mengantisipasinya.



Umumnya masalah yang dapat diprediksi tidak menjadi masalah yang terlalu dikhawtirkan dan solusinya mungkin sudah berulang dilakukan dan mungkin ampuh untuk mengatasi persoalan sejenis.


Yang jadi masalah kadang kala kita harus melakukan sesuatu/langkah ataupun tanggung jawab yang mungkin kita tidak pernah bisa memprediksi jenis masalah apa yang akan kita hadapi sehingga solusinyapun tentunya tidak pernah terpikirkan.


Untuk menghadapi masalah seperti itu, tentunya kita belajar dari bagaimana kita menghadapi atau menyikapi dari masalah masalah umum sehingga kita mempunyai pola pikir dan kesiapan mental untuk menghadapinya. Yang kadangkala suatu solusi dari suatu masalah dapat di analogkan untuk memecahkan masalah lain yang mempunyai karakter dasar yang sama.


Yang harus kita tekankan bagaimana kita menghindari masalah yang bisa diprediksi dan menghadapi masalah yang kita tidak prediksi dan tidak terjebak hanya untuk mengatasi sympton masalah (gejala masalah) tidak mengatasi masalah utama yang jadi penyebab atau yang biasa digambarkan sebagai simptom pulau es (iceberg).


Untuk menejemen di bawah biasanya permasalahannya hampir dapat dikatakan tampak sehingga pemecahannya relatif tidak terlalu sulit.

Untuk menejemen tingkat menengah, permasalahannya sebagian tampak dan sebagian tidak tampak kepermukaan sehingga relatif lebih sulit solusinya.

Sedangkan untuk menejemen tingkat atas, permasalahan boleh dibilang kadang tidak tampak dan harus dipaparkan lebih lanjut atau lebih bersifat strategis.

Kadang kala mungkin sering keputusan atau solusi yang kita anggap baik ternyata ditolak atau tidak dijalankan oleh hirarkhi pengambil keputusan yang lebih atas. Tentunya kita harus coba memahami bagaimana cara pandang atau pertimbangan dibalik keputusan sehingga keputusan solusi itu yang diambil.


Dengan mempelajari karakter dan kondisi saat ini dan kondisi yang hendak dicapai dalam jangka panjang dari tujuan yang hendak kita capai baik sendiri maupun tujuan bersama, akan memudahkan kita mengambil keputusan dan tentunya keputusan itu dapat diterima oleh diri sendiri maupun komunitas kita.

Yang perlu diingat bagaimana kita mengatasi masalah utamanya jangan sampai terjebak mengatasi symptom masalah dari hari ke hari dimanapun posisi kita berada. Dan tentunya tidak terjebak oleh komitmen yang berlebihan (over commitment) biasanya disini ego mulai bermain walaupun dalam kenyataannya sudah jauh meleset dari apa yang kita perkirakan alias tidak jalan sesuai rencana sehingga perlu tindakan koreksi.

Bagaimana cara cara yang biasa kita lakukan dalam menghadapi masalah dan bagaimana kita mengatasinya akan menjadi kebiasaan dan kita cenderung terlatih dengan cara tersebut, oleh karena itu harus berhati hati agar kebiasaan itu membuat kita lebih termotivasi atau membawa kebaikan bagi kita maupun komunitas dimana kita berada.

Dengan adanya masalah kita bisa berlatih mengatasi solusi dengan adanya masalah dan tentunya jangan mengulang kesalahan sehingga timbul masalah yang sama. Yang tentunya akan lebih baik lagi bisa memprediksi masalah yang akan timbul dan melakukan antisipasi agar terhindar dari masalah.

Lebih baik kerja ekstra untuk mengantisipasi agar tidak timbul masalah dari pada kerja keras untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya dapat diantisipasi, yang mana pada sebagian orang lebih "menyukai" tidak memikirkan masalah yang akan timbul atau tidak mau sedikitpun memikirkannya atau mengganggap akan pernah ada masalah yang akan timbul yang sebenarnya dapat diprediksi atau meminimalkan masalah yang akan timbul, begitu masalah timbul baru kerja keras untuk mencari solusi sehingga biasanya mencari solusi dengan kebiasaanya yang biasa dilakukannya alias memecahkan masalah dengan menimbulkan dampak masalah baru yang lebih komplek dan...............tentunya masalahnya tidak selesai dan yang lebih parah apabila banyak pihak yang dirugikan yang sebenarnya bisa dihindari apabila dilakukan hal hal yang semestinya dilakukan.


Berlatih menghadapi masalah tentunya tidak perlu untuk mengulang ulang dengan masalah yang sama, apalagi jika tidak terjadi langkah langkah perbaikkan dalam menyelesaikan masalahnya.
Suatu masalah bagi bagi kita mungkin bukan menjadi masalah bagi yang lain atau karena terjebak rutinitas suatu masalah tidak terlihat sebagai masalah.
Untuk menuju yang lebih baik suatu yang tidak bermasalah mungkin akan jadi bermasalah di karenakan adanya target - target baru yang diciptakan sendiri untuk menjadi baik sehingga timbul solusi solusi baru terhadap permasalahan ataupun antisipasi antisipasi baru untuk mencegah timbulnya permasalahan.


Sesuatu yang dianggap sudah idealpun akan menghadapi masalah dikarenakan lingkungan yang akan selalu berubah.

Dalam mengatasi masalah diperlukan skala prioritas sesuai dengan kondisi yang diperlukan, sayangnya karena solusi umumnya tidak pada akar permasalahan dikarenakan biasanya kebutuhan yang sangat mendesak atau terdesak oleh waktu, sehingga kita terjebak oleh solusi sehari hari oleh permasalahan yang timbul pada permukaan bukan menyelesaikan permasalahan utama penyebab permasalahan yang akan selalu berulang atau masalah yang seharusnya tidak timbul apabila kita menyelesaikan masalah utamanya.

Paling tidak diperlukan langkah mundur sejenak, menyediakan waktu dari mengatasi solusi yang sehari hari kita lakukan dengan mencari tahu penyebab akar permasalahan.

Apabila akar permasalahan utama sudah diketahui, umumnya akan lebih jelas ternyata solusinya umumnya lebih sulit karena umumnya kita menghindar dari masalah utama dan secara tidak sadar melarikan diri dengan menyelesaikan masalah masalah permukaan. :-)))))

Masalah bisa membuat kita lebih kuat dan berhasil atau juga sebaliknya sehingga kita tidak kuat menanggungnya dan menuju kegagalan, karena memang setiap manusia mempunyai kapasitasnya masing - masing.
Apapun yang kita lakukan masalah akan selalu ada, karena masalah merupakan sahabat dari kita.:-) Dimana jika ia ada kita berusaha membuat solusi sedangkan bila ia tidak ada malah kita mencarinya jika kita ingin perbaikkan agar bisa lebih baik bagi kita.
Paling tidak masalah membuat kita lebih bijak untuk mengintropeksi diri dan lebih bijaksana dalam melangkah kedepan.